RSS

Pendidikan Yang Makin Menguras Otak dan Tenaga

Pendidikan merupakan kebutuhan manusia sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapanpun dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia sekarang tidak akan berbeda dengan generasi manusia masa lampau, bahkan mungkin juga malah lebih rendah, lebih jelek kualitasnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa maju-mundurnya atau baik buruknya peradaban masyarakat suatu bangsa akan di tentukan oleh pendidikan yang di tempuh oleh masyarakat tersebut.
Masa kanak-kanak merupakan masa penting dalam perkembangan hidup manusia. Karena masa kanak-kanak merupakan masa paling awal dalam rentang kehidupan yang akan menentukan perkembangan pada tahap-tahap selanjutnya. Masa ini adalah masa yang paling kritis dimana perkembangan seluruh aspek dalam kehidupan manusia terjadi pada usia kanak – kanak selain itu pembentukan karakter atau kepribadian terjadi pada masa ini. Seiring proses tumbuh kembangnya, seorang anak akan melalui tahap-tahap perkembangan dengan tugas perkembangan yang berbeda-beda, keberhasilan pencapaian suatu tugas perkembangan di suatu tahap akan membantu kelancaran tahap berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa anak dikatakan berkembang secara normal apabila anak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang harus dijalaninya pada masa tersebut. Sebaliknya apabila anak tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang harus dijalaninya maka dapat dikatakan bahwa anak mengalami hambatan dalam perkembangannya. Secara umum, kesesuaian antara perkembangan anak dengan apa yang harus dicapainya dilihat melalui kematangan sosialnya.
Dunia anak adalah dunia bermain. Dunia anak adalah dunia belajar. Itu adalah pandangan yang sama bagi anak. Seorang anak suka bermain dan belajar. Seorang anak belajar sambil bermain. Seorang anak bermain sambil belajar. Cara belajar seorang anak adalah melalui bermain. Pembelajaran adalah model permainan kreativitas yang tiada habis-habisnya. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki hasrat untuk bermain dan berpetualang. Anak-anak memiliki hasrat yang besar untuk bermain.
Menyadari pentingnya menulis, tentu pelajaran membaca dan menulis di sekolah tidak terhindarkan lagi. Namun seringkali terdapat kekeliruan persepsi dan implementasi atas pelajaran membaca dan menulis itu. Pelajaran membaca dan menulis diberikan kepada peserta didik tidak tepat waktu dan tepat sasaran. Ketentuan penerimaan siswa SD bukan atas dasar kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Tetapi seleksi berdasarkan usia. Prinsipnya, calon siswa SD berusia 7 tahun harus diterima. Bagi yang berusia 6 tahun dapat diterima di kelas I SD. Tamat TK bukan merupakan prasyarat masuk SD.
Prakteknya, ada sebagian besar SD yang mempersyaratkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung serta tamat TK, sebagai pertimbangan dapat diterima tidaknya calon siswa, disamping usia. Kita sebagai bangsa memang cakap membuat aturan, namun tidak cakap mematuhinya.
TK merupakan pendidikan pra-sekolah. Bukan jenjang yang tepat untuk belajar membaca, menulis dan berhitung. Jika dipaksakan, maka telah terjadi pemaksaan atas beban belajar di luar batas kemampuan rata-rata anak berdasar usianya. Jika hal ini yang terjadi, rusaknya pendidikan anak-anak oleh guru sendiri.

Rusaknya pendidikan anak-anak yang dilakukan guru bukan tanpa sebab. Faktor orangtua sangat berperan. Kebanyakan orangtua sangat bangga jika anaknya yang berusia pra-sekolah sudah mampu membaca, menulis dan berhitung. Sementara ada guru SD yang malas memberikan pelajaran membaca, menulis dan berhitung permulaan, karena kebijakan sekolah dan/atau keterbatasan kemampuan.
Persepsi masyarakat, TK bermutu adalah yang memberikan pelajaran membaca, menulis dan berhitung. SD bermutu adalah yang mengajarkan pengetahuan intelektual pada kelas rendah. Sehingga anak-anak nampak lebih pintar. Sekolah-sekolah inilah yang kemudian dikategorikan sebagai favorit.
Secara empiris hal ini dapat dibuktikan. TK yang tidak mengajarkan membaca menulis dan berhitung sangat sulit mendapat siswa. SD yang baru mengajarkan membaca, menulis dan berhitung permulaan di kelas I, cenderung kekurangan siswa. Sebaliknya, TK dan SD yang melakukan atas pembelajaran membaca menulis dan berhitung permulaan, diserbu dan menolak calon siswa. Ironis, penyelenggara TK dan SD yang seharusnya meluruskan paradigma keliru tersebut, malah turut serta mengeksploitasi kesalahkaprahan!
Dalam teori pendidikan klasik, mendidik anak-anak pra-sekolah dan kelas-kelas rendah belum untuk memberi pengetahuan intelektual. Pendidikan lebih ditekankan pada usaha menyempurnakan rasa. Yang harus dikembangkan adalah kecerdasan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan pengendalian emosinya.. Pendidikan pra-sekolah sesungguhnya ditekankan pada bagaimana menumbuhkan perasaan senang berimajinasi, menggunggah dan menggali hal-hal kecil di sekitarnya. Jika anak sudah senang terhadap hal-hal tersebut, dengan sendirinya minat dan potensi akademiknya akan tumbuh tepat pada waktunya, ialah ketika tantangan dan tuntutan hidupnya semakin besar.
Anak usia dini mempunyai jadwal kematangan berbeda-beda waktunya, maka orang tua dan guru tidak boleh memaksa anak untuk belajar sesuatu apabila anak belum siap (matang). Pada umumnya anak usia ini akan selalu bergerak, mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, senang bereksperimen dan menguji, mampu mengekspesikan diri secara kreatif, tidak dapat disuruh duduk diam selama pelajaran berlangsung. Bagi anak usia dini duduk diam selama jam pelajaran merupakan pekerjaan yang amat berat . Melihat karakter anak seperti itu, maka pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi anak-anak adalah yang selalu ”dibungkus” dengan permainan, suasana riang, bernyanyi dan menari. Bukan pendekatan pembelajaran yang penuh dengan tugas-tugas berat . Kegiatan yang dilakukan secara spontan, tanpa paksaan, sesuai dengan gerak hati anak, dan mendatangkan kegembiraan harus di ciptakan terus menerus secara bervariasi .Di sela-sela bermain, anak belajar memahami salah benar. Ia juga mulai belajar memahami apa itu adil, jujur, menguasai jiwa, dan menanggalkan egoisme ketika bermain ramai-ramai, dan ia juga dapat belajar berjiwa besar .

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment